Genre slice of life dalam film, anime atau sastra, biasanya menceritakan potongan kehidupan secara realistis dan apa adanya—tanpa konflik dramatis berlebihan. Hidup yang sudah serba darderdor membikin genre tontonan seperti ini, sebagai hawa segar di musim kerontang. Alih-alih jadi tren, ia akan menawarkan hiburan menenangkan bagi jiwa-jiwa yang lelah.
Genre Slice of Life berfokus hanya pada pengembangan karakter, kesederhanaan interaksi sosial, serta perayaan momen-momen kecil. Pada film model begini, kita memang tidak akan menemukan akhir cerita dengan konflik berlebihan. Kalau saya sih bilangnya, ini adalah tipe film yang teu giung teuing.
Call Me Chihiro (2023) adalah film drama slice-of-life Netflix yang baru saja saya tonton, beberapa bulan lalu. Baru hari ini sempat bikin ulasannya, karena sayang kalau tak dikabarkan pada banyak orang. Alur filmnya bergerak pelan, nyaris tanpa intensitas konflik, atau drama yang bisa membikin kamu nangis sesenggukan, mungkin itulah yang membuat film ini jadi menarik.
Film besutan sutradara gaek Rikiya Imaizumi ini, dibintangi oleh Kasumi Arimura. Berlatar panorama khas Hiroshima yang tenang dan sunyi. Tahu sendiri kalau Jepang sudah bikin film dengan karakter dingin, pasti punya kesan lama di memori kamu sebagai penonton. Kota pesisir yang lengang, dilengkapi dengan kisah para tokohnya yang bergulir tanpa effort besar, adalah jeda tontonan yang menyenangkan, yang mungkin kita semua sedang butuhkan saat ini.
Call me Chihiro mengajak kita rehat sejenak dari kebisingan dunia yang sibuk dengan konflik-konflik besar, ia merayakan hal-hal kecil yang patut disyukuri. Film ini tak mengusik label seseorang, atau keirian pada hidup orang lain.

Chihiro—mantan pekerja seks komersial—memilih hidup baru sebagai pelayan di Noko Noko Bento, sebuah toko kecil di pesisir Hiroshima. Chihiro tak pernah kelihatan menyesali masa lalunya sebagai PSK, ia malah kerap mengambil jarak jernih dari kehidupannya sekarang, dan memetik hal bijak di masa lampau lewat kesederhanaan berpikir dan momen-momen kecil.
Film yang diadaptasi dari manga Chihiro-san karya Hiroyuki Yasuda ini, terkesan nyentrik, tapi juga tidak lebay. Sensasinya seperti menyesap coklat hangat, saat di luar sedang tren minuman bobba super manis.
Satu yang menurut saya paling menarik dari Call Me Chihiro, adalah caranya membicarakan relasi interpersonal—atau meminjam istilah yang lebih agamis, sebuah hubungan hablum minannas. Chihiro tak pernah mengorek masa lalu orang lain, ia tak peduli label, stigma, bahkan kelas sosial siapa pun. Ia tak peduli bergaul dengan manusia usia berapa, jarang bertanya nama, atau sekadar bertanya niatan orang lain mendekati dirinya. Ia cuma menikmati setiap momen, dan memerhatikan detail-detail kecil.
Di dunia yang hobi sekali melabeli ini itu, Chihiro mengajarkan etika sederhana: ayok mari kita abai pada stigma, pada nama, pada apa yang fana. Chihiro adalah tipikal YOLO kalem, yang begitu menikmati kediriannya. Meski beberapa orang masih menyebutnya “si mantan PSK”, ia cuma tersenyum dan berlalu. Karena bertahan hidup menjadi PSK, telah memberinya banyak sekali pelajaran hidup.
Adegan origami di rumah sakit bersama mantan pegawai toko bento yang buta, adalah salah satu yang paling punya kesan buat saya. Sutradara, menyuguhkan momen sederhana yang terasa hangat, meski tanpa dialog berlebihan. Tapi kalau yang kamu cari konflik meledak-ledak, mungkin tidak akan suka film ini. Bisa jadi untuk beberapa orang, film ini terasa “terlalu datar”. Namun buat saya, justru ini yang bikin kepala kita tenang. Di tengah hidup nyata kita yang sudah keras, Call Me Chihiro menawarkan ruang buat bernapas.
Intensitas emosi memang sempat meningkat, ketika Chihiro berhadapan dengan tragedi seorang tunawisma yang telah ia anggap teman. Namun bahkan di titik ini, respons Chihiro tetap datar, kalau bahasa stoik mah, kamu tidak bisa mengendalikan kenyataan yang terjadi padamu, tapi bisa mengendalikan respons terhadap kenyataan itu.
Satu lagi, kalimat yang paling membekas adalah ketika Chihiro berucap, “Kita ini alien dalam tubuh manusia. Tak penting siapa dirimu, kita semua dari planet yang berbeda.” Namun ia juga menambahkan, bahwa orang-orang dari planet yang sama, suatu hari akan bertemu. Sebuah versi lain dari birds of a feather flock together.
Pada akhirnya, Call Me Chihiro bukan film tentang drama berlebihan yang menyuguhkan konflik-konflik besar yang perlu disorot oleh manusia, ruang dan waktu, melainkan tentang hari ini… alhamdulillah kita masih bisa bernapas lagi. Sebuah catatan penting, tentang hubungan manusia yang tak selalu butuh didefinisikan, dan kebaikan yang tak perlu disorot lampu validasi. Hidup kadang butuh seorang Chihiro, yang cuma akan duduk menemani, menawarkan bento hangat dan tak beranjak sebelum tahu kita pulang dengan selamat.