“Perempuan yang Menangis Kepada Bulan Hitam” Karya Dian Purnomo.
Judul: Perempuan yang Menangis Kepada Bulan Hitam
Penulis: Dian Purnomo
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Kota terbit: Jakarta
Tahun terbit: 1 Mei 2021
Halaman: 320 halaman
ISBN: 978–602–06–4845–3
Akhirnya selesai juga membaca novel “Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam” karya Dian Purnomo. Hmm… lelah luar biasa membacanya, kesal, gemas, dan miris. Mari kita kupas dan iris lembar per lembar.
Novel ini menghadirkan kisah Magi Diela, seorang perempuan yang menjadi korban praktik kawin tangkap yang menyimpang dari moralitas dan nilai luhur kemanusiaan. Dengan setting geografi Sumba, novel ini menyoroti bagaimana perempuan dihadapkan pada tradisi yang tidak hanya membatasi kebebasan mereka, tetapi juga mengukuhkan penindasan berbasis gender. Saya mencoba menghubungkannya dengan konsep penubuhan (embodiment), menggunakan teori feminisme untuk memahami bagaimana tubuh perempuan diperlakukan dalam sistem patriarki dan bagaimana Magi Diela memperjuangkan hak atas tubuh dan kehidupannya sendiri.
Penubuhan dalam perspektif feminisme, menyoroti bagaimana tubuh perempuan sering kali menjadi objek kontrol sosial dan budaya. Dalam novel ini, tubuh Magi Diela diperlakukan sebagai komoditas dalam tradisi kawin tangkap yang menyimpang. Leba Ali tidak melihat Magi sebagai individu dengan kehendak bebas, melainkan sebagai objek pemuas nafsunya. Pandangan ini mencerminkan bagaimana sistem patriarki sering kali mengontrol tubuh perempuan melalui norma sosial, agama, dan adat.
Masih ingat apa kata Simone de Beauvoir, bahwa perempuan sering kali direduksi menjadi “yang lain” dalam sistem masyarakat patriarkal. Magi Diela mengalami proses penubuhan ini ketika ia diculik dan dijadikan istri paksa, di mana kehendaknya tidak dihargai. Lebih jauh lagi, konsep keperawanan ini digunakan untuk mendiskreditkan Magi Diela, bagaimana tubuh perempuan dijadikan alat ukur moralitas dan nilai sosial. Jika seorang perempuan kehilangan keperawanannya di luar pernikahan, ia dianggap tidak layak lagi sebagai seorang istri. Hal ini menunjukkan bagaimana tubuh perempuan dikendalikan bukan hanya oleh laki-laki, tetapi juga oleh norma sosial sebuah kultur dalam masyarakat tradisi, yang mendukung patriarki.
Dalam novel bercover pink ini, Magi Diela melakukan perlawanan terhadap sistem yang menindasnya. Ia menolak untuk menerima Leba Ali sebagai suaminya meskipun masyarakat berusaha memaksanya. Perlawanan ini mencerminkan konsep agency dalam feminisme, di mana seorang perempuan berhak atas tubuh dan kehidupannya sendiri. Perlawanan Magi Diela juga didukung oleh sahabatnya, Dangu, yang mencoba membantunya keluar dari situasi tersebut, meskipun ia harus menghadapi berbagai fitnah dan tekanan sosial.
Saya coba kasih stabilo, bahwa dalam novel ini, diungkap bahwa perempuan yang berusaha melawan sistem patriarki sering kali mendapatkan perlakuan yang tidak adil. Magi Diela bahkan harus mengalami percobaan bunuh diri sebagai bentuk keputusasaan, karena tidak mendapatkan keadilan. Ini menunjukkan bagaimana sistem yang ada lebih berpihak kepada pelaku daripada korban. Namun, melalui perjuangannya, Magi Diela akhirnya berhasil keluar dari cengkeraman Leba Ali, meskipun harus menanggung trauma yang mendalam.
Kisah Magi Diela dalam Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam bukan sekadar fiksi, tetapi juga mencerminkan realitas yang masih terjadi di berbagai tempat. Banyak perempuan yang menjadi korban pelecehan dan pernikahan paksa tidak memiliki hak untuk menentukan nasib mereka sendiri. Bahkan, korban pelecehan seksual sering kali mengalami viktimisasi ganda, di mana mereka justru disalahkan atas kejadian yang menimpa mereka.
Novel ini menjadi refleksi penting bagi pembaca tentang pentingnya memahami dan mendekonstruksi budaya yang menindas perempuan. Tradisi yang sudah ada bukan berarti harus terus dilestarikan jika melanggar hak asasi manusia. Dalam konteks feminisme, hal ini menunjukkan bahwa perjuangan perempuan bukan hanya tentang kebebasan individu, tetapi juga perubahan sosial yang lebih besar agar semua orang, tanpa terkecuali, mendapatkan hak yang setara.
Saya mencoba menghubungkan novel ini dengan beberapa teori feminisme, karena novel Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam mengangkat isu penubuhan sebagai bentuk kontrol patriarki terhadap perempuan. Magi Diela menjadi contoh perempuan yang tidak hanya menjadi korban, tetapi juga seorang pejuang yang menolak tunduk pada sistem yang menindasnya. Melalui perjuangannya, novel ini mengajak pembaca untuk berpikir kritis terhadap tradisi dan norma sosial yang masih mendukung ketidakadilan terhadap perempuan. Oleh karena itu, novel ini bukan hanya sekadar kisah fiksi, tetapi juga bentuk perlawanan terhadap sistem yang menindas perempuan, sekaligus menjadi inspirasi bagi perempuan lain untuk berani melawan ketidakadilan, yang terjadi pada tubuhnya sendiri.