Lewat karya-karya Pramoedya Ananta Toer, saya melihat suar feminisme yang menyala di tengah pusaran sejarah dan ketidakadilan. Lewat sosok-sosok perempuan kuat seperti Nyai Ontosoroh, Pram menghadirkan perlawanan yang tak sekadar lantang, tetapi juga berakar pada kesadaran akan hak dan martabat yang sifatnya given.
Mereka ini bukan cuma perempuan fiksi, melainkan cerminan manusia yang menolak tunduk pada sistem patriarki yang mengekang. Dari halaman ke halaman, mereka punya suara yang menggema, terus menerus mengajarkan, kalau perjuangan perempuan itu bukan sekadar kisah fiksi di masa lalu, tetapi juga kesadaran yang harus dinyalakan hingga hari ini.
Dalam lanskap sastra Indonesia, Nyai Ontosoroh buat saya bukan sekadar karakter fiksi. Ia adalah simbol perlawanan berbentuk manusia, sebuah ironi yang menampar wajah peradaban patriarki kolonial. Pramoedya Ananta Toer, dengan tangan besinya yang lembut, menciptakan seorang perempuan yang meskipun dicabut hak-haknya sejak lahir, justru mampu berdiri tegak di hadapan hukum dan moral yang dibuat oleh mereka yang menganggapnya tidak lebih dari komoditas. Maka, bagaimana mungkin saya sebagai salah satu dari jutaan pencinta karya Pram, yang kebetulan penulis fiksi, tidak menjadikan Nyai Ontosoroh sebagai mercusuar?
Sejak pertama kali membaca Bumi Manusia, ada yang membuat saya gelisah sekaligus marah. Mungkin karena realitas yang disajikan terasa begitu akrab di dunia sekitar saya—seolah-olah kita tidak benar-benar melangkah jauh dari masa kolonial, hanya saja nama penjajahnya kini berganti. Marah karena melihat betapa perempuan tetap menjadi objek dalam masyarakat yang katanya semakin modern.
Nyai Ontosoroh mengajarkan saya, kalau seorang perempuan bisa diperlakukan selayaknya barang, bukan berarti ia harus menerima nasib sebagai barang. Bukankah ini sebuah sarkasme sejarah yang menyedihkan?
Membaca berbagai literatur sastra feminis, menjadikan perspektif Nyai Ontosoroh sebagai manifestasi dari apa yang disebut Simone de Beauvoir sebagai the Other—sosok yang tidak pernah diakui sebagai subjek penuh dalam masyarakat patriarki.
Alih-alih tunduk dalam peran yang diberikan, Nyai Ontosoroh memilih untuk menciptakan subjeknya sendiri. Ia belajar, ia mengelola, ia melawan, dan, yang paling menakutkan bagi kaum lelaki yang merasa superior, ia berpikir.
Pierre Bourdieu dalam konsep habitus dan doxa-nya menunjukkan bagaimana individu dapat melawan sistem yang telah tertanam dalam struktur sosial. Nyai Ontosoroh tidak hanya melawan, tetapi ia merusak sistem tersebut dari dalam, mempermalukannya dengan kecerdasan dan ketangguhan yang tidak pernah diharapkan dari seorang perempuan buangan. Ia seperti api dalam sekam.
Mengapa ini penting bagi saya? Karena karya fiksi memang punya pengaruh besar ternyata. Saya melihat betapa dunia masih berusaha menempatkan perempuan dalam kotak-kotak sempit yang didefinisikan oleh kepentingan orang lain. Jika bukan sebagai ibu yang harus berkorban, maka sebagai istri yang harus patuh, atau sebagai perempuan mandiri yang tetap harus tampil ‘lemah lembut’ agar tidak mengintimidasi.
Nyai Ontosoroh mengajarkan saya kalau seorang perempuan boleh keras kepala, boleh marah, boleh berteriak, dan boleh, bahkan wajib, menuntut haknya. Ia adalah simbol bahwa feminisme bukan sekadar memperjuangkan kesetaraan, tetapi juga tentang merampas kembali kemanusiaan yang telah lama dianiaya.
Membangun karakter fiksi lewat karya cerpen ataupun novel, saya ingin menciptakan lebih banyak ‘Nyai Ontosoroh’ modern—perempuan yang tidak tunduk pada aturan usang, perempuan yang berani mendobrak norma-norma yang dibuat oleh mereka yang ketakutan kehilangan kendali.
Jika Nyai Ontosoroh bisa bertahan dan melawan di tengah kolonialisme, lalu apa alasan perempuan masa kini untuk tetap diam? Saya menulis feminisme bukan karena ingin menghakimi dunia, tetapi karena dunia telah terlalu lama merenggut banyak hak perempuan. Masalah kepemimpinan, segregasi pekerjaan, kesehatan reproduksi, bahkan kesehatan mental perempuan yang membutuhkan ruang untuk berpendapat.
Nyai Ontosoroh adalah alasan saya menulis. Ia adalah simbol pelecehan terhadap sistem yang menganggap perempuan lemah, dan saya ingin menjadikannya kritik abadi bagi mereka yang berpikir bahwa feminisme cuma omong kosong dan kemarahan membabi buta.
Kenapa saya menganggap bahwa Pram ternyata seorang feminis?
Karena feminisme dalam karya Pramoedya Ananta Toer bukan sekadar elemen naratif, tetapi sebuah perlawanan terhadap ketidakadilan yang mengakar dalam sejarah dan budaya.
Melalui tokoh-tokoh perempuan yang cerdas, berani, dan menolak tunduk pada sistem patriarki—Annelies dan Nyai Ontosoroh—Pram menegaskan kalau perjuangan kemanusiaan tidak dapat dilepaskan dari perjuangan perempuan untuk mendapatkan hak dan martabatnya.
Sikapnya yang konsisten dalam membela kaum tertindas, terutama perempuan yang kerap dijadikan objek eksploitasi, membuktikan bahwa kalau ia bukan hanya sekadar pengamat, tetapi juga seorang feminis yang meletakkan perempuan dalam arus utama sejarah dan perubahan sosial.
Seratus tahun sejak Pramoedya Ananta Toer dilahirkan, kita mengenang warisannya yang melampaui zaman, perlawanan yang tak padam, dan cita-cita tentang manusia yang merdeka.
Dalam setiap karya yang ia wariskan, ada pesan untuk terus berpikir, mempertanyakan, dan memperjuangkan keadilan, termasuk bagi perempuan yang selama ini terpinggirkan oleh narasi sejarah.
Semoga masa depan membawa dunia yang lebih egaliter, di mana perempuan tak lagi harus berjuang sendirian untuk mendapatkan haknya, di mana suara mereka dihargai, dan di mana mimpi-mimpi mereka bisa tumbuh setinggi-tingginya tanpa batas yang dibuat oleh ketimpangan.
Selamat seabad Pram, suaramu abadi!