Sebuah kerja kepenulisan dari meja seorang kosmetolog tentang tubuh, kuasa, dan bias gender.
Ada yang tak biasa setahunan ini, tergeletak di meja kerja saya. Sebuah peta rencana, kalender kerja, untuk tiga naskah dalam bentuk berbeda.
Sebuah novel berlatar intrik politik industri kosmetik berjudul “Borasih” yang saya siapkan sebagai bentuk kepedulian terhadap dunia politik perempuan. Satu novela drama slice of life bergaya surealisme, tentang perempuan dan komodifikasi kecantikan yang saya beri judul “Poespa Pohatji”. Lalu yang terakhir, sebuah kumpulan esai yang dengan nekat saya namai “Merayakan Menopause dengan Progresif”.
Memang tidak ada yang meminta saya menulis ketiganya secara sporadis, dan diluncurkan dalam waktu berdekatan—bak dikejar setan. Tidak ada pula tenggat dari penerbit yang mengharuskan saya bergerak se-gercep ini. Yang ada cumalah rasa gelisah yang terlampau besar untuk tak digubris—dari nurani—ketika menghadapi problematika yang sampai kini masih membelenggu perempuan. Menyoal isu relasi kuasa, komodifikasi kapitalistik, dan tentu saja soal bias gender. Semua ini rasanya tak sanggup kalau cuma ditampung oleh satu judul karya saja. Tiga amunisi ini bergerak, sebagai bagian perjuangan feminisme interseksional.
Sebagai seorang kosmetolog, yang kebetulan juga berprofesi sebagai penulis. Saya pernah lebur dalam industri kosmetika, merancang skema bisnis untuk pasar klinik kecantikan. Bertahun-tahun saya bekerja dengan kulit—memahami lapisan epidermis, melanin, kolagen, serta problematika penuaan yang menakutkan buat perempuan. Pekerjaan itu mengajari saya, bahwa tubuh perempuan adalah medan pertempuran yang lagi-lagi melibatkan relasi kuasa—subtil, pun jarang dibicarakan. Di sanalah akar kebermulaan segala ketimpangan terjadi, narasi tak adil tentang tubuh perempuan.
Borasih: Tubuh Perempuan sebagai Intrik Politik Relasi Kuasa
Novel Borasih bermula dari sebuah desa bernama Ciambarang, terletak di kaki bukit yang membelah wilayah antara dua trah bangsawan: Wirasandi dari barat dan Galinggih dari timur. Permusuhan dua keluarga ini bukan sekadar soal batas tanah atau rivalitas bisnis. Ia berakar pada sesuatu yang jauh lebih kuno, sebuah rahasia perempuan peramu yang dikubur oleh sejarah patriarkis.

Sekar Galinggih dan Sinom Wirasandi—yang bersahabat, telah menyusun formula lulur Borasih dari naskah kuno warisan nenek moyang mereka. Borasih bukan sekadar ramuan kecantikan biasa. Ia adalah simbol perlawanan di zaman revolusi. Hasil kolaborasi dua perempuan dari perseteruan dua trah, menolak batas-batas lelaki di sekitar mereka, yang menyimpan pengetahuan sebagai bentuk kedaulatan.
Ide utama yang membuat saya resah ketika merancang novel ini, adalah soal kolaborasi perempuan yang subversif—dua perempuan dari dua kubu bermusuhan memilih untuk menciptakan sesuatu bersama—yang lantas diubah oleh narasi patriarki menjadi konspirasi dan pengkhianatan. Formula Borasih yang tadinya lahir dari persahabatan dan pengetahuan bersama itu kemudian direbut, diperdebatkan kepemilikannya, dan pada akhirnya dijadikan komoditas oleh dua keluarga sebagai intrik bisnis.
Puluhan tahun kemudian, konflik itu diwarisi oleh Laras Wirasandi dan Ambalika Galinggih—dua perempuan muda dari generasi ketiga yang masing-masing merepresentasikan dua cara pandang berbeda. Laras adalah CEO sekaligus saintis. Ia seorang yang rasional, senantiasa berbasis data, percaya pada kesetaraan melalui jalur sains dan bisnis modern. Ambalika adalah botanis sekaligus spiritualis, percaya pada ekofeminisme, pengetahuan lokal, dan kedaulatan perempuan akar rumput.
Saya tidak ingin novel ini sekadar menjadi cerita tentang pertentangan tradisi versus modernitas, atau spiritualitas versus sains. Pembingkaian dikotomis seperti itu terlalu sering dipakai untuk melabeli perempuan—memaksa mereka memilih identitas yang sebenarnya tidak perlu jadi problem. Saya memberi highlight, justru pada dualisme Wirasandi–Galinggih, Timur–Barat, Tradisi–Modernitas, terdapat sebuah konstruksi yang sengaja dipelihara oleh struktur patriarkis untuk mencegah para perempuan bersatu.
Borasih mengajak pembaca: mempertanyakan bagaimana pengetahuan tentang tubuh perempuan—yang sejak ribuan tahun dijaga oleh perempuan sendiri, dari generasi ke generasi—selalu menjadi sasaran kekuasaan. Oleh kolonialisme yang menyebutnya sebagai takhayul manusia primordial. Oleh kapitalisme yang mengubahnya menjadi produk eksploitatif. Oleh patriarki yang membentuk relasi kuasa.
Borasih adalah novel tentang upaya memulihkan jati diri perempuan yang melawan, lewat pertarungan hukum, upacara adat, dan kesadaran spiritual yang bertemu dalam satu klimaks cerita. Diterbitkan oleh Effington Books, Maret 2026.
Poespa Pohatji: Sebuah Fiksi Kritis Soal Narasi Kecantikan Industri Kapitalistik

Saya menulis Poespa Pohatji, berawal dari sebuah pertanyaan sederhana yang menyimpan kompleksitas: mengapa perempuan ingin tampil cantik? Selama saya bekerja sebagai kosmetolog, saya menyaksikan betapa erat hubungan antara ritual kecantikan dengan identitas, rasa aman, bahkan perlawanan. Ada perempuan yang mengenakan lipstik merah bukan untuk tampil cantik, melainkan untuk merasa bahwa ia masih punya kendali atas dirinya. Ada yang merawat kulitnya karena ia merasa memiliki tubuhnya secara utuh.
Kosmetika—dalam narasi dominan—sering dibingkai sebagai alat patriarki, sebuah cara perempuan menyesuaikan diri dengan standar kecantikan yang diciptakan oleh dan untuk kepentingan laki-laki. Pembacaan ini tentunya tidak salah, meski tak sepenuhnya utuh. Sebagai seseorang yang bertahun-tahun mendengarkan keluhan klien perempuan soal kulit, saya tahu ada dimensi lain: kosmetika bisa menjadi bahasa, bisa menjadi ruang, bisa menjadi cara perempuan menegosiasikan dirinya agar memiliki daya tawar. Poespa Pohatji ingin mengeksplorasi sisi ini.
Konflik bermula ketika tokoh “aku”, bernama Rakunti mulai meragukan prinsip hidup dan etika bisnis yang selama ini ia yakini, bahwa kulit cerah adalah standar kesuksesan dan kecantikan. Ketika kesadaran ini tumbuh, ia justru terjebak dalam industri yang dibangun dari kepercayaan itu. Ia menghadapi dilema: mempertahankan bisnis yang menghasilkan kekayaan, atau merombak sistem yang berisiko meruntuhkan segalanya.
Poespa Pohatji, adalah novela drama tentang makna tubuh dan bias industri kecantikan yang mengeksploitasi tubuh perempuan. Diterbitkan oleh Langgam Pustaka, Tasikmalaya. Maret 2026.
Merayakan Menopause: Memugar Narasi Tubuh Perempuan dan Ageisme
Lalu ada esai-esai yang saya kumpulkan, selama bertahun-tahun. Saya simpan, setiap kali menemukan isu yang meresahkan.

Merayakan Menopause dengan Progresif adalah proyek yang paling personal sekaligus paling politis dari ketiganya. Sebagai perempuan yang berusaha menyadari telikung budaya patriarkis, saya duduk di persimpangan antara ilmu pengetahuan tentang tubuh dan kecemasan perempuan tentang penuaan.
Menopause adalah peristiwa biologis yang wajar, namun masyarakat memperlakukannya seperti sebuah berhentinya produktifitas tubuh perempuan—seolah-olah kami yang berhenti berovulasi telah kehilangan sesuatu paling fundamental dari keperempuanannya.
Saya mendengarkan keluhan klien yang datang ke klinik, dengan rasa malu tentang kulit mereka yang menua, rambut mereka yang menipis, garis-garis di wajah mereka yang memperjelas proses penuaan. Keengganan ini tidak sekadar datang dari diri mereka sendiri, melainkan dari cara pandang kolektif—komentar pasangan, ucapan rekan kerja, tatapan masyarakat, pandangan diri sendiri di cermin yang sudah duluan dijajah oleh standar-standar timpang ala industri kapitalistik. Esai-esai ini lahir dari kemarahan terhadap standar yang dibuat normatif, dan dari keinginan untuk memugar narasi dengan rasa syukur yang bersumber dari pemahaman.
“Progresif” dalam judul tak semata diksi ornamen. Merayakan menopause secara progresif berarti menolak narasi tunggal—baik narasi patriarki yang meminggirkan perempuan tua, maupun narasi wellness yang mengkomodifikasi penuaan dengan cara eksploitatif.
Merayakan Menopause dengan Progresif, adalah sebuah kumpulan esai. Tentang perempuan, perjuangan, narasi tubuh perempuan, penuaan dan isu ageisme yang merugikan. Diterbitkan oleh Penerbit Kolofon, Yogyakarta. Maret 2026.
Mengapa Tiga Sekaligus?
Pertanyaan yang paling sering saya terima dari sesama penulis adalah: mengapa tidak satu per satu? Jawaban paling jujur adalah karena kegelisahan tidak datang satu per satu. Isu perempuan bukan bab-bab yang berdiri sendiri —ia adalah jaringan interseksional yang saling mengait, saling mempersoalkan, saling melengkapi. Tubuh dan kuasa adalah dua wajah dari satu intrik yang sama. Kecantikan dan politik tidak secara langsung terpisah. Penuaan dan resistensi berjalan dalam satu napas perjuangan yang sama.
Ada juga alasan yang lebih manusiawi: saya takut kehabisan waktu. Bukan dalam pengertian dramatis—saya tidak sedang sakit. Namun sebagai perempuan yang bekerja di dua bidang berbeda, yang menyaksikan setiap hari bagaimana waktu dan ruang perempuan selalu menjadi kompromi, saya belajar untuk tidak menunda apa yang hendak saya katakan. Ketiganya harus ada sekarang, karena percakapan tentang perempuan harus ada sekarang.
Sebagai kosmetolog, saya terlatih untuk “menata” kulit secara menyeluruh—bukan hanya satu titik masalah, melainkan keseluruhan kondisi yang saling memengaruhi. Pendekatan yang sama saya bawa ke dalam kepenulisan. Persoalan perempuan tidak bisa diselesaikan dengan satu intervensi tunggal, sebagaimana kulit bermasalah tidak bisa sembuh hanya dengan satu krim. Ia butuh pendekatan berlapis, dari berbagai sudut, dalam kesabaran.

Menulis sebagai Perluasan Praktik
Ada yang bertanya, apakah hubungannya perempuan penulis dan praktik kosmetolog?
Bagi saya, keduanya adalah satu. Setiap klien yang datang membawa cerita—tentang bagaimana ia dilihat, bagaimana ia ingin dilihat, apa yang ia sembunyikan di balik fondasi yang ia pilih. Ruang konsultasi kecantikan adalah ruang yang jarang dibicarakan sebagai ruang yang politis, padahal ia adalah salah satu tempat paling intim di mana perempuan berhadapan langsung dengan konstruksi sosial yang menempel di tubuh mereka.
Menulis memungkinkan saya mengolah semua yang saya saksikan—bukan untuk membongkar privasi siapa pun, melainkan untuk menemukan pola, untuk meletakkan narasi individual dalam konteks yang lebih luas, untuk memberi nama pada sesuatu yang selama ini hanya dirasakan tapi tidak pernah punya “Ruang Berjuang”. Fiksi memberi saya kebebasan untuk lebih jujur mengeksplor. Esai memberi saya kebebasan untuk lebih marah dalam menyampaikan data.
Di meja kerja saya, tiga naskah itu adalah amunisi saya, perempuan yang sedang berjalan menuju tua. Sebagai cara saya mengolah keresahan.
Pada akhirnya, Borasih, Poespa Pohatji dan Merayakan Menopause dengan Progresif bukan tiga proyek yang berbeda. Mereka adalah satu narasi panjang perjuangan perempuan—antara saya dengan komodifikasi tubuh perempuan, antara saya dengan ketimpangan relasi kuasa dan bias gender, juga antara saya dengan waktu yang terus bergulir hingga napas saya habis.
Penulis adalah kosmetolog dan ahli tata kecantikan kulit yang telah menyelesaikan novel Borasih, novela Poespa Pohatji dan kumpulan esai Merayakan Menopause dengan Progresif.