Work Inquiries
halo@halamanhalimun.com
Back

Ayah Egalitarian Sebagai Kunci Pemutus Rantai Patriarki dari Ruang Keluarga

DigitalMama

Selama berabad-abad, perempuan seolah dipenjara dalam identifikasi tunggal terkait tugasnya di ranah domestik. Mereka dilabeli sebagai pengasuh, istri, sekaligus manajer logistik rumah tangga. Meski edukasi mengenai kesetaraan gender telah mengubah banyak hal di ruang publik, prinsip kesetaraan di dalam rumah sering kali masih menjadi barang mewah—terutama di daerah-daerah di mana nilai tradisional masih sangat kental.

Narasi yang menempatkan ayah semata-mata sebagai pencari nafkah (breadwinner) tidaklah berdiri sendiri. Masyarakat kita masih kerap mencibir laki-laki yang memilih tinggal di rumah untuk mengurus anak, dan sebaliknya, memuja mereka yang sibuk di garda depan urusan publik. Ranah sumur, dapur, dan kasur direduksi menjadi “kodrat” perempuan. Konstruksi gender ini telanjur mengakar dan dinormalisasi, seolah pengasuhan dan pekerjaan domestik akan melunturkan sisi maskulin seorang laki-laki. Namun, mari kita berhenti sejenak dan bertanya: siapa yang sebenarnya diuntungkan dari pembagian peran yang timpang ini? Jawabannya: tidak ada.

Konstruksi yang memenjarakan peran ayah ini justru berakibat fatal pada minimnya keterlibatan mereka dalam pengasuhan. Ini memunculkan urgensi untuk membongkar ulang makna fatherhood (kebapakan). Seorang ayah yang bersedia membuka diri dan mempraktikkan etika kesetaraan bukanlah laki-laki yang kehilangan maskulinitasnya. Sebaliknya, ia adalah manusia yang punya hak untuk berdiri sama tinggi, membebaskan keluarganya dari jebakan patriarki, dan menciptakan ruang aman yang sesungguhnya.

Selengkapnya bisa dibaca di https://digitalmama.id/2026/07/ayah-egalitarian-sebagai-kunci-pemutus-rantai-patriarki-dari-ruang-keluarga/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *