Kejap lampu di Halte Transjakarta Monas setelah tengah malam mulai redup. Orang-orang sibuk metropolitan sudah beranjak pulang, tetapi mereka yang kemalaman masih berlalu lalang. Aku ada di antara lalu lalang. Cari duit sampai segininya.
Kamu harus memastikan halte mana saja yang dilayani AMARI di jam malam, karena tidak semua halte ramai seperti siang hari, terutama di area Monas.
Cahaya biru kehijauan pada tubuhku mulai berpendaran setiap kali malam menjelang datang. Di leher, di paha, terutama di bokong.
Satu sepeda motor yang melintasi halte tiba-tiba berhenti; pengendaranya menoleh padaku. Si bapak, lehernya menjulur, matanya nakal, lidahnya melet-melet. Aku yang risih lekas menunduk, menutupi tubuh yang makin malam makin biru benderang. Aku menudunginya dengan sweater yang tersampir di bahu.
Kamu harus memastikan tempat duduk yang aman di ruang tunggu halte—kalau busnya belum datang. Usahakan agar kamu tak menunggu sendirian.
Di antara deretan gedung pemerintahan dan Monumen Nasional, beberapa orang tampak bergerak-gerak. Bayangan-bayangan itu kini berjalan mendekat. Mereka adalah penumpang Transjakarta yang sama-sama kemalaman, mereka yang hendak pulang.
Tak jauh dari lantai halte, seorang perempuan tua menyeruak dari kegelapan. Ia menyalip orang lain hingga jatuh terhuyung, tetapi dia tidak meminta maaf. Perempuan tua itu terlalu sibuk untuk lekas duduk di sebelahku. Kelihatannya menunggu AMARI yang sama, pun dengan pendar cahaya biru yang persis memenuhi tubuhnya.
“Sudah lama nyala terang begitu?” ucapnya tiba-tiba padaku ketika sudah duduk dengan nyaman. “Punyamu kelihatannya masih baru.”
Aku yang sadar bahwa ia sedang membicarakan cahaya di tubuhku lekas menutupinya dengan tas selempang. Tas laptop menutupi pahaku yang terbuka, juga sweater yang masih kusampirkan di bahu. Apa saja agar ia tak menghitung jumlah cahaya biru kehijauan di tubuhku.
“Belum lama,” jawabku asal-asalan.
Bus Transjakarta AMARI belum juga datang. Tetapi beberapa penumpang lelaki sudah menatap cahaya kami yang berpendaran—aku dan si ibu tua. Ada tatapan penasaran, tetapi kebanyakan tampak liar dan lucah.
“Tutupi pakai sweater cahaya di pahamu itu. Sinarnya terlalu terang,” desis seorang lelaki berkacamata dari arah belakang. Ia tiba-tiba mendekat, lalu duduk dengan waswas. Tubuhnya sendiri bercahaya biru.
Aku terpegun, memindai warna biru di leher, pipi, juga di lengannya yang terbuka. Kulit putihnya tak bisa menutupi berapa banyak cahaya biru dan hijau di badannya.
“Kenapa? Heran?” Lelaki itu memelotot. “Belum pernah lihat ada cahaya biru di tubuh laki-laki?”
Aku masih tercenung, tak bisa menjawab.
“Jangan kepo sama urusan orang, Nak,” tukas perempuan tua di sebelah. “Jangan karena dia lelaki, kamu pikir tidak akan punya cahaya biru di tubuhnya.”
Bahkan menilai cahaya-cahaya itu dengan pikiran pun aku tak berani. Aku memutuskan untuk diam saja, tak ambil pusing dengan ucapan mereka. Lantas kembali membalas pesan-pesan di gawai dari Ibu.
Sudah mau naik bus. Tenang saja.
Iya, ditutupi.
Tidak terlalu kelihatan. Orang lain tidak memperhatikan.
Tentu saja aku berbohong.
Di lantai halte, beberapa kursi kosong berbaris rapi. Hanya tujuh kursi yang terisi: olehku, perempuan tua, lelaki kasar tadi, dan beberapa penumpang lainnya. Masing-masing sibuk dengan barang dalam genggaman, tak menggubris tatapan orang-orang yang sibuk menghitung pendar cahaya pada tubuh kami.
Angin malam yang dingin membawa suara klakson nyaring dari sudut jalanan yang jam segini belum juga tidur. Bisik-bisik mulai terdengar ketika beberapa rombongan karyawan bank baru saja masuk. Mereka mengenakan jaket superrapat, tetapi tak bisa menutupi pendar cahaya yang menyuruk dari lubang pakaian: di leher, di lengan, dan di paha. Biru kehijauan berbinar dari sana.
“Bahkan yang punya cahaya biru pun mulai menilai tubuh orang lain,” dengus si ibu tua. Ia bahkan tak repot menoleh, entah omongannya mengarah pada siapa.
“Karena tak ada yang suci di halte ini, di bus, di terminal mana pun, apalagi di ibu kota. Semua pernah kena sentuh,” tanggap lelaki berkulit putih dari kursi belakang. “Semakin dikasih tanda begini, malah bikin bajingan-bajingan itu makin nafsu.”
Bola mataku membulat. Omongan itu memancing kekhawatiranku. Aku berharap malam lekas berlalu, AMARI datang, dan aku bisa pulang menuju Ibu. Aku tak mau mengiyakan apa yang diomongi lelaki bermulut pedas itu, meski ia ada benarnya.
“Sudah berapa lama punya biru hijau begitu?” tanya si ibu tua.
“Dua tahun, sejak kerja di Sudirman,” jawabnya pelan. “Sekarang mereka malah makin berani di tempat ramai.”
“Hmm…,” gumam si penanya. Lalu kembali sunyi.
Kamu harus menghitung jam perjalananmu sampai ke rumah, memastikan presisi, dan mengabari orang yang kamu kenal.
***
Setahun lalu, ketika warna biru belum ada di kulitku, persis di malam seperti ini aku menatap refleksi wajahku di kaca jendela bus. Wajahku tak ada cahaya birunya. Namun perempuan di sebelahku—tangan, bahu, terutama pahanya—penuh warna biru kehijauan. Ia naik dari SCBD.
Aku memandangnya—menghitung, lebih tepatnya. Sampai hitungan ke sepuluh, ia berdeham.
“Tak banyak yang tahu kalau biru itu memenuhi bokong hingga selangkanganku,” ucapnya. “Hati-hati. Bahkan tubuh polos tanpa warna sepertimu juga pasti akan mereka tandai.”
Aku nyaris sampai di Halte Harmoni ketika merasakan sentuhan di bokongku. Telapak dingin yang tak kukenal menyusup dari belakang, meraba pahaku yang terbuka, lalu memasukkan satu jari dengan kasar.
Aku membujur kaku.
“Diam,” bisik suara parau di telingaku. “Nikmati saja.”
Tenggorokanku tercekat. Ingin berteriak, tetapi sumbatannya rekat. Penumpang lain sibuk dengan ponsel mereka, bahkan sebagian pura-pura tidak melihat. Bus bergoyang, dan tangan itu terus bergerak. Lampu neon di luar sana berkelip, memantulkan semburat warna sian yang perlahan muncul di tubuhku.
Itu kisah pertama kali aku mendapat warna biru.
Kamu harus ingat di mana saja kamu mendapatkan perlakuan semacam itu. Catat, sebarkan, dan beri tahu semua orang.
***
Suasana Halte Monas Koridor 1 malam hari ini agak ramai seperti biasanya. Transjakarta tetap beroperasi melayani penumpang Koridor 1. Dari jauh, taman memamerkan panorama ikonik Monas di bawah temaram lampu kota.
Aku hendak pulang menuju rumah, jadi terpaksa kembali ke halte ini setiap malam. Duduk menunggu dalam gamang, sibuk menutupi pendar cahaya biru di tubuhku.
Di seberangku, seorang lelaki mencuri pandang, menghitung jumlah cahaya biru di kakiku yang terbuka. Ia terlihat iba, atau bisa jadi merasa jijik.
Dari arah pintu, sepasang suami istri dengan anak perempuan cilik naik. Yang membuatku terbelalak adalah cahaya biru kehijauan yang memenuhi sekujur tubuh anak itu—samar, tetapi berangsur terang.
Aku menatap lekat, tak berkedip. Anak itu balas mengintipku sendu. Ia memahami sesuatu yang tak bisa kuucapkan.
“Ngapain lo liatin anak gue!” bentak si ayah tiba-tiba.
Mereka turun di Halte Harmoni Central Busway. Cahaya biru di tubuh anak itu kian menyala.
Bus Transjakarta kembali melaju, menyisakan tumpat di dadaku hingga megap-megap, sampai jejas aku tumpahkan di hadapan Ibu di rumah.
Kamu harus berani bicara jujur, memberi tahu orang terdekat. Jangan takut disalahkan.