
Menulis selalu menjadi kegiatan, perbuatan, sekaligus pekerjaan yang amat saya sukai. Namun, tak banyak yang tahu bahwa saya juga menaruh minat besar pada dunia masak-memasak. Nyaris semua karya fiksi yang saya tulis selalu menjumput secuil narasi tentang makanan, apa pun itu bentuknya. Entah itu jajanan pasar, secangkir kopi (yang paling sering muncul), maupun makanan pokok khas Sunda. Tanpa disadari, kecintaan pada hal-hal berbau gastronomi pun mulai membesar. Jika awalnya saya memandang aktivitas makan sebatas pemenuhan kebutuhan biologis, kini muncul kesadaran akan keterkaitannya dengan beragam fenomena antropologis dan sosiologis.
Selama ini, publik mengenal saya lewat tulisan-tulisan seputar isu pendidikan anak, hak perempuan, dan kesehatan mental. Belakangan, saya mulai membidik diskursus makro melalui pintu masuk dunia makanan dan pangan. Layaknya teknik vantage point dalam dunia fotografi, menulis esai tentang isu-isu besar dapat dilakukan dengan mengambil sudut pandang yang paling dekat dengan keseharian manusia: makanan.
Makan bukan sekadar proses pemenuhan kalori, melainkan juga sebuah mekanisme evolusioner dan psikologis. Aktivitas sosial yang melibatkan proses makan, seperti kenduri, secara naluriah mampu membangun kepercayaan, ikatan sosial, dan rasa aman yang memicu pelepasan hormon kebahagiaan seperti endorfin dan oksitosin. Sejak zaman nenek moyang, berbagi makanan menandakan iktikad damai dan sirnanya ancaman dari pihak luar. Oleh karena itu, dalam setiap hubungan antarnegara, diskusi politik, atau perumusan kerja sama, jamuan makan selalu menjadi agenda krusial. Ritual ini membangkitkan rasa kebersamaan dan membuat kita merasa saling memahami.
Secara filosofis, makan bersama merefleksikan nilai moral, makna hidup, identitas budaya, serta kesadaran eksistensial manusia. Muncul sebuah gugatan kritis: apakah makanan adalah esensi yang menghidupi, atau sekadar komoditas untuk dikonsumsi? Pertanyaan ini menuntut kita untuk menelaah kembali cara manusia memosisikan diri di alam, bukan sekadar sebagai konsumen dalam rantai ekosistem.
Mengingat rekam jejak saya yang kerap menelaah isu-isu keperempuanan, saya lantas menarik benang merah antara isu pangan dan hal-hal yang selama ini menjadi simbol domestikasi. Berangkat dari pertanyaan eksistensial tersebut, saya menyadari bahwa dapur tidak pernah luput dari narasi politik dan relasi kuasa. Selama ini, narasi patriarki kerap mengerdilkan dapur sebatas ruang gerak domestik—sebuah simbol penundukan terhadap perempuan. Padahal, jika dibedah lebih dalam, dapur justru menjadi arena utama beroperasinya relasi kuasa, sekaligus ruang di mana narasi paling mendasar dapat kita rebut dan ubah arahnya. Membicarakan apa yang tersaji di atas meja makan berarti membongkar siapa tuan tanahnya (landlord), siapa yang merawat benih di perkebunan, dan siapa yang memegang kendali atas rantai pasok pangan.
Tidakkah kita melihat bahwa eksploitasi terhadap alam dan sumber daya pangan sering kali berjalan beriringan dengan eksploitasi terhadap kerja-kerja perempuan? Di sinilah lensa kepenulisan saya menemukan pijakan pada medium yang paling merakyat. Ketika menelusuri asal-usul bahan baku—katakanlah sebotol rempah lokal, beras dari lumbung, atau hasil bumi dari tradisi agraris—saya tidak lagi sekadar melihat komoditas pasar. Saya melihat jejak pengetahuan ekologis yang terasa banal, akibat narasinya yang terus-menerus digerus oleh laju industri ekstraktif.
Inilah benang merah yang menyatukan seluruh kegelisahan tersebut. Langkah ini adalah sebuah upaya memperlebar spektrum isu sosial dari ranah yang paling dekat, yakni dapur dan kuali. Media tentang makanan dan bahan baku ini lahir dari kesadaran bahwa untuk merawat peradaban—serta demi memastikan generasi penerus kita kelak tumbuh dengan pemahaman yang utuh tentang otonomi diri dan lingkungannya—kita harus memulainya dari meja makan.
Kita harus mendekonstruksi narasi usang yang menyebut bahwa memasak hanyalah kewajiban kodrati perempuan. Keterampilan ini harus diangkat derajatnya menjadi sebuah kecakapan bertahan hidup, wujud kemandirian, dan manifesto politik sehari-hari. Dapur harus dikembalikan fungsinya sebagai ruang produksi pengetahuan, bukan sekadar ruang reproduksi tenaga kerja tak berbayar (unpaid labor).
Lewat “Relasi Kuali”, sebuah wadah kepenulisan yang sedang dibangun ini, kami ingin mengajak siapa saja untuk menyetir arah sejarah kembali pada hakikatnya; mendedah struktur ketidakadilan sekaligus merajut harapan melalui rekam jejak makanan. Sebab, memegang kendali atas kuali di dapur berarti memegang kendali atas narasi kehidupan manusia itu sendiri. Mengaduk, meramu, dan menghidangkan makanan bukan lagi rutinitas biologis belaka, melainkan cara kita merawat ingatan budaya dan memastikan bahwa nilai-nilai kehidupan memiliki keberlanjutan.