Back

Jalan Sunyi Karya Sastra Tukang Batagor

Dari gerobak batagor hingga jalur penerbitan independen, Asep Ardian dan Foggy FF menempuh jalan sunyi menulis. Menuntut keadilan royalti dan membuka ruang bagi penulis-penulis baru.

Di pinggir jalan Karawitan, Kota Bandung yang selalu ramai dengan lalu lalang kendaraan, Asep Ardian dengan gerobak batagornya menunggu pelanggan datang. Rasa jenuh setia  menemaninya. Buku menjadi pelariannya untuk membunuh bosan. Ia pun mulai biasa membaca di sela-sela jualan batagornya, meski awalnya tidak suka membaca.

Selengkapnya https://www.teras.id/bandung-bergerak/rubrik/berita-daerah/jalan-sunyi-karya-sastra-tukang-batagor-2120694

Foggy FF memulai karier menulis pada 2009 lewat buku anak-anak dan buku pengayaan sekolah. Seiring waktu, ia beralih ke fiksi dengan tema yang lebih kompleks. Salah satu karyanya, Braga Paris van Java, mengangkat Bandung bukan hanya sebagai kota romantis, tetapi juga sebagai ruang dengan jejak sejarah dan persoalan sosial yang berlapis.

Seperti Asep, Foggy juga menyimpan kegelisahan terhadap sistem penerbitan. Pengalamannya bekerja sama dengan penerbit mayor membuatnya menilai skema royalti yang rata-rata kecil tidak sebanding dengan waktu dan tenaga yang dicurahkan penulis. Atas dasar itu, ia memilih menempuh jalur independen atau self-publishing.

Bagi Foggy, pilihan tersebut bukan semata pertimbangan ekonomi. Ia menginginkan kebebasan lebih luas dalam menentukan tema dan sudut pandang tanpa harus menyesuaikan diri dengan selera pasar atau pertimbangan sensor editorial. Jalur independen memberinya ruang untuk mengelola proses kreatif sekaligus distribusi karya.

Ia juga menyoroti industri buku yang dinilai cenderung memberi panggung pada nama-nama besar. Penulis baru, menurutnya, kerap kesulitan menembus ruang publikasi. Bahkan dalam sejumlah kompetisi, penulis yang telah mapan tetap berpartisipasi sehingga peluang bagi pendatang baru semakin terbatas. Kondisi ini membuat akses menuju panggung literasi belum sepenuhnya inklusif.

Foggy menambahkan, di penerbit mayor sekalipun, penulis yang belum memiliki nama besar sering kali harus mempromosikan bukunya secara mandiri. Tidak sedikit yang mengeluarkan biaya pribadi untuk menggelar diskusi atau bedah buku.

Melalui jalur independen, Foggy berharap dapat mendorong ekosistem literasi yang lebih adil secara ekonomi. Baginya, langkah ini bukan sekadar strategi bisnis, melainkan sikap dan bentuk keberpihakan pada penulis, terutama penulis lokal yang baru merintis.

“(Harapannya) kalau di ekosistem kita tuh, yang namanya muncul nggak itu lagi, itu lagi, pengennya sih ada penulis-penulis baru yang menyemangati, di industri ini tuh bukan menjual mimpi gitu, penulis baru pun bisa muncul gitu,” ungkap Foggy yang hingga saat ini berharap ekosistem industri buku semakin inklusif terhadap penulis-penulis baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *