Back

Membaca Novela Kitchen-nya Yoshimoto Banana

Menggunakan Kacamata Stoisisme.

(Sebelum membahas novela “Kitchen” karya Yoshimoto Banana, saya memberikan peringatan untuk teman-teman, kalau tulisan ini mengandung “Spoiler”)

Novela “Kitchen” sebagai debut bagi Yoshimoto Banana, memang dianggap tak mengagetkan kalau sampai diganjar banyak penghargaan, di antaranya: 6th Kaien Newcomer Writers Prize (November 1987), 16th Izumi Kyoka Literary Prize (October 1988), dan 39th Minister of Education’s Art Encouragement Prize for New Artists (August 1988).

Waktu dibelikan pertama kali oleh suami saya dari Post Santa, novela ini sempat membuat saya memicingkan mata, karena banyak ulasan mengatakan kalau Yoshimoto terlalu dipengaruhi oleh penulis Barat, meski akhirnya juga diakui secara kritis kalau ia adalah salah satu pendobrak sastra Jepang kontemporer.

Novela ini mengangkat kisah yang menggambarkan perjalanan emosional manusia dalam menghadapi kehilangan dan kesepian. Berfokus pada tokoh utamanya, Mikage Sakurai, seorang perempuan muda yang ditinggalkan oleh seluruh keluarganya. Mikage-san menemukan rasa nyamannya di dapur, hingga ia menganggap bahwa dapur adalah satu-satunya ruang kontemplasi baginya. Mikage kemudian bertemu dengan Yuichi dan ibunya, Eriko, yang lantas membawa pembaca ke dalam eksplorasi mendalam tentang rasa duka menghadapi kematian dan kehilangan yang tak terhindarkan, selama berkali-kali.

Kenapa saya tertarik menghubungkannya dengan filsafat stoisisme, novela Kitchen ini sebetulnya mencerminkan nilai-nilai utama Stoisisme: penerimaan, ketenangan, dan fokus pada apa yang dapat kita kendalikan. Seperti kita semua tahu, kalau stoik meyakini kalau kematian itu adalah bagian alami dari kehidupan, dan novela ini secara halus menunjukkan bagaimana karakter-karakternya berjuang untuk berdamai dengan kenyataan tersebut.

Saya Melihat Stoisisme dalam Karakter Mikage

Mikage Sakurai, atau dalam novela ini kemudian dikenal dengan ‘Mikage-san’ adalah personifikasi dari perjuangan manusia untuk mencintai takdir (amor fati). Kehilangan orang-orang terdekat, membuat Mikage menghadapi “memento mori,” yaitu pengingat bahwa kematian itu adalah sesuatu yang pasti terjadi. Dalam kesepian Mikage Sakurai, dapur menjadi ruang di mana ia menemukan sebuah ‘rasa tenang batiniah’. Bagi Mikage, aktivitas masak-memasak bukan cuma aktivitas praktis, tetapi sebuah cara untuk memulihkan jiwa, menerima kenyataan, dan mengarahkan pikirannya pada hal-hal yang dapat dikendalikan. Stoisisme mengajarkan kita, akan pentingnya fokus pada apa yang dapat dilakukan, dan Mikage berhasil melalui rasa duka lewat dedikasinya pada makanan dan rutinitas kehidupan.

Saya Melihat Keberanian Stoik pada Karakter Eriko-san

Eriko, seorang transgender yang menjalani hidup penuh dengan keberanian, ia seolah menjadi representasi lain dari nilai Stoik, yang seperti kita yakini mengusung perjalanan hidup penuh ketabahan. Kenapa Eriko dianggap berani? Karena ia mampu menerima perubahan yang tidak dapat dihindari, termasuk kematian yang mendadak. Dalam filsafat Stoik, kematian tidak perlu ditakuti, melainkan dihadapi dengan penuh ketabahan dan keberanian. Dalam novela ini, Eriko menjalani hidupnya penuh kebersyukuran, bahkan hingga akhir hidupnya, ia meninggalkan warisan berupa inspirasi bagi Yuichi dan Mikage.

Saya Melihat Proses Grieving yang Stoik pada Karakter Yuichi

Yuichi, yang kehilangan ibu sekaligus ayahnya (dalam satu tubuh yang sama), berjuang dengan duka yang cukup dalam dan penuh trauma. Namun, lewat interaksinya dengan Mikage, ia belajar untuk menerima kenyataan dan melanjutkan hidup. Filosofi Stoik mengajarkan bahwa duka adalah sebuah respons yang alami, dan harus diimbangi dengan logika dan kesadaran akan batasan kendali manusia. Yuichi akhirnya menemukan makna yang cukup mendalam lewat hubungan dan keberlanjutan hidup, yang tidak semata-mata menyesali sesuatu yang sia-sia.

Kenapa Novela “Kitchen” Dekat dengan Stoisisme?

Melalui tema besarnya yang berisi kematian dan duka cita, Kitchen sejalan dengan ajaran Stoik: bahwa kehidupan menjadi lebih bermakna ketika kita mengingat ‘kefanaannya’. Momen-momen yang sengaja ditonjolkan oleh penulisnya (Yoshimoto Banana), seperti makan bersama, memasak, atau berjalan di tengah malam, menggambarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu berasal dari hal besar, melainkan dari kesadaran akan kehadiran di saat ini (living in the present). Hal ini mengingatkan kita semua yang membaca, agar tidak terjebak dalam penderitaan atas kehilangan, tetapi menemukan makna dalam keberadaan sehari-hari.

Novel Kitchen seperti menawarkan kajian filosofis tentang bagaimana manusia dapat berdamai dengan kematian dan kehilangan melalui penerimaan, keberanian, dan fokus pada hal-hal sederhana yang bermakna. Meminjam perspektif stoisisme, kita semua bisa melihat bahwa Mikage, Yuichi, dan Eriko adalah contoh nyata, manusia yang sedang berupaya menjalani hidup menggunakan ketenangan dan keberanian, meski duka cita menghantui mereka.

Kitchen mengingatkan kita bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan bagian dari perjalanan yang memperkaya makna hidup itu sendiri. Saya ingin sekali, novela ini dibaca oleh teman-teman yang saat ini sedang menghadapi rasa duka karena kehilangan orang-orang yang dicintai, semoga kalian menemukan kedamaian yang sama seperti Mikage dan Yuichi, lewat metode “pengendalian” yang luar biasa.

“Aku akan tumbuh besar dan besar, mengalami berbagai hal, dan berkali-kali tenggelam sampai dasar. Meski berulang kali menderita, aku akan berulang kali juga bangkit. Takkan kalah. Takkan mengendurkan kekuatan.” (Kitchen, Yoshimoto Banana, halaman 68–69).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *