Work Inquiries
halo@halamanhalimun.com
Back

Mengapa Kita Cepat Lupa? Memahami Fenomena Hari ini Ramai, Esok Lupa ala Humberto Maturana 

HM

Masih ingat tidak, dulu linimasa dipenuhi dengan sebuah konflik di jagat dangdut Indonesia, antara Inul Daratista dan Raja Dangdut Rhoma Irama. Asal muasalnya, dari kemunculan gaya erotis khas Inul yang dikenal dengan goyang ngebor. Ada masa, ketika pertengkaran mereka nyaris memenuhi headline surat kabar dan infotainment. 

Nama Inul Daratista dan Bang Haji Rhoma Irama, muncul di mana-mana. Potongan videonya dibagikan, pendapat tentangnya muncul, orang yang tidak mengikuti sejak awal pun jadi tahu ceritanya. Beberapa hari kemudian, percakapan itu menghilang begitu saja. Bisa jadi bukan karena persoalannya beres, tapi karena ada percakapan lain yang kita pergunjingkan.

Kali ini, saya tidak sedang mendongeng soal musik dangdut, apalagi mau membikin tren semodel Goyang Ngebor.

Kamu sadar tidak, kalau perhatian masyarakat di ruang publik amat sangat mudah sekali berpindah. Kita sering menyebutnya sebagai masyarakat yang mudah lupa. Tetapi mungkin problemnya tak sesederhana itu.

Kita hidup di lingkungan yang terus menghasilkan sesuatu untuk diperhatikan. Setiap perhatian menghasilkan respons. Setiap respons menghasilkan data. Nah, data ini kemudian membantu menentukan apa yang muncul di hadapan kita berikutnya.

Humberto Maturana menggunakan istilah structural coupling untuk menjelaskan bagaimana suatu sistem dan lingkungannya mengalami perubahan melalui ingatan di memori dan interaksi. Lingkungan memengaruhi perubahan pada sistem, tetapi sistem juga, melalui tindakannya, ikut mengubah lingkungan tersebut.

Sederhananya begini: kita membentuk lingkungan yang kita tinggali, tetapi lingkungan yang kita bentuk itu kemudian ikut membentuk kita.

Seorang pedagang cilok depan sekolah mengubah barang dagangannya, karena selera pembeli di sekolahan tersebut berubah. Tetapi ketika ia dan pedagang lain di sekolahan itu mengikuti selera tersebut, mereka juga ikut mengubah apa yang dianggap sebagai “selera pasar”. 

Di media sosial, hubungan itu bisa terlihat seperti begini: kita membuat —> orang merespons —> platform membaca respons —> distribusi berubah —> perhatian berpindah —> kita menyesuaikan diri —> kita membuat sesuatu yang baru.

Kemudian siklusnya berulang.

Ini membuat tren tak semata sebagai sesuatu yang “muncul” begitu saja. Ia diproduksi dan dipelihara oleh interaksi antara manusia dan lingkungan digitalnya.

Isu tidak selalu tenggelam karena masyarakat berhenti peduli. Kadang perhatian kita telah dipindahkan oleh mekanisme yang terus-menerus membutuhkan sesuatu yang baru untuk diperhatikan. 

Mari kita balik lagi sedikit, ke Inul Daratista dan Bang Haji Rhoma Irama.

Dulu, konflik mereka banyak muncul di televisi, koran, tabloid, dan obrolan sehari-hari ibu-ibu di tukang sayur. Orang membicarakan goyang ngebor, orang membicarakan moral, orang memilih berpihak. Rasanya seperti tidak ada pembicaraan lain.

Tetapi kemudian muncul cerita lain. Perhatian berpindah. Dan kita pun ikut pindah fokus.

Sebenarnya, pola seperti ini bukan sesuatu yang baru. Bedanya, dulu perpindahan perhatian membutuhkan waktu lebih lama. KArena masyarakat hanya mengandalkan berita di televisi, atau paling banter dari koran dan media sosial yang masih lambat. Sekarang semuanya bergerak jauh lebih cepat.

Satu video muncul. Kita menonton. Kita berkomentar. Orang lain ikut membagikan. Lalu muncul video lain yang lebih menarik. Kita pindah lagi.

Di sinilah gagasan structural coupling dari Humberto Maturana jadi menarik.

Sederhananya, kita dan lingkungan saling memengaruhi. Kita mengubah lingkungan melalui apa yang kita lakukan, lalu lingkungan yang kita ubah itu kembali memengaruhi perilaku kita. Begitu juga di media sosial.

Kita membuat sesuatu. Orang merespons. Respons itu ikut menentukan apa yang kemudian banyak dilihat. Setelah melihatnya, kita membuat sesuatu lagi. Begitu terus. Jadi, tren sebenarnya bukan hanya sesuatu yang datang kepada kita. Kita juga ikut membuatnya.

Kita tidak bisa cuma bilang kalau masyarakat sekarang “mudah lupa”. Kita hidup dalam lingkungan yang membuat perhatian terus bergerak. Dulu kita ramai-ramai gosipin Inul dan dan Bang Haji. Sekarang kita ramai-ramai membicarakan tim bubur diaduk atau bukan, kamu tim nge-banned spotify atau masih dukung? 

Besok tren berganti lagi. Yang berubah bukan hanya topiknya. Kecepatan kita berpindah perhatianlah yang berubah.

Jadi pertanyaan yang menurut saya jauh lebih penting bukan soal kenapa kita cepat lupa, tapi apakah kita masih memberi cukup waktu kepada sebuah persoalan untuk benar-benar kita pahami sebelum berpindah kepada persoalan berikutnya?

Sebab setiap kali kita ikut menggosip soal sesuatu, kita bukan cuma menjadi penggembira dari sebuah tren. Kita ikut membikinnya jadi besar. Dan ketika perhatian kita berpindah, kita juga ikut membantu sesuatu yang lain mengambil panggung untuk jadi sama besarnya.

Barangkali itulah salah satu paradoks kehidupan digital, kita membentuk lingkungan perhatian kita sendiri, lalu perlahan belajar hidup mengikuti lingkungan yang telah kita bentuk.

Dan kalau argumen Maturana ternyata benar dan valid, bahwa kita dan lingkungan saling membentuk, ada satu pertanyaan yang agak buat saya: Jangan-jangan bukan algoritma yang sedang belajar memahami manusia. Jangan-jangan manusialah yang sedang dilatih memahami dunia sesuai dengan apa yang algoritma tahu akan kita klik.

Dan kalau itu benar, mungkin besok pagi kita tak perlu tanya lagi, “Apa yang sedang terjadi di luar sana?”

Cukup buka linimasa. Ia sudah memilihkan apa yang hari ini perlu kita pikirkan. Setidaknya sampai lima belas detik berikutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *