Back

Pulang Kerja Pun Tak Aman: Kecelakaan Bekasi Timur dan Nyawa Perempuan yang Terus Dipertaruhkan

Mereka memilih KRL karena dianggap aman. Tetap saja nyawa mereka melayang, bukan karena kriminalitas, tapi karena sistem yang dibiarkan gagal.

Senin malam, 27 April 2026. Kereta Api KA 4 Argo Bromo Anggrek menghantam bagian belakang KRL TM 5568A yang sedang berhenti di peron Stasiun Bekasi Timur. Empat belas nyawa hilang. Puluhan luka-luka. Ribuan penumpang lain terjebak dalam ketidakpastian di sepanjang jalur Jakarta–Cikarang.

Pemicunya disebut sebuah taksi listrik yang tertemper di perlintasan sebidang JPL 85—satu titik buta di antara sekian banyak titik buta dalam jaringan transportasi kita yang sudah lama dibiarkan semrawut. Kita akan segera diajak menyebut ini “kecelakaan murni,” anomali teknis, kesalahan manusia yang tak terhindarkan. Tapi bagi perempuan yang setiap hari bertaruh nyawa di atas rel dan aspal, tidak ada yang benar-benar tak terhindarkan dalam tragedi semacam ini.

Saya menulis ini bukan untuk meromantisasi kesedihan. Saya menulis ini karena kenyataan itu perlu dikatakan: hidup sebagai perempuan di Indonesia adalah hidup dalam kerentanan yang berlapis. Kadang ancaman itu datang dari dalam rumah, dalam bentuk kekerasan yang berujung kematian. Kadang dari jalanan, dalam bentuk pelecehan. Dan Senin malam kemarin, ia datang dari rel kereta—besi menghantam peron karena sistem yang gagal melindungi mereka yang paling bergantung padanya.

Selengkapnya https://magdalene.co/story/kecelakaan-bekasi-timur-keselamatan-perempuan-transportasi-publik/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *