Back

Saat Layanan Kesehatan Mental Mahal, Orang Dipaksa Tampak Normal

Di tengah stigma yang masih kuat, banyak orang dengan gangguan kesehatan mental dipaksa tetap terlihat “normal” agar tidak kehilangan pekerjaan, relasi, dan martabatnya.

Sebagai penyintas yang menulis memoar tentang gangguan kesehatan mental, saya tahu rasanya berjalan di lorong sunyi nyaris tanpa dukungan. Ada masa ketika saya sebisa mungkin menyembunyikan mental status saya dari ruang publik. Saat itu saya seorang pengusaha, dan di hadapan klien maupun kolega, yang dinilai adalah stabilitas: seberapa tahan banting seseorang menghadapi tekanan, seberapa sanggup ia mengelola masalah tanpa terlihat goyah. Kondisi mental kerap dibaca sebagai ukuran kapabilitas kerja. Karena itu, seperti banyak orang lain, saya memilih tampak baik-baik saja.

Masalahnya, menutupi kondisi dan terus menyangkal kenyataan tidak membuat saya membaik, malah sebaliknya. Kekambuhan datang lebih berat, depresi makin dalam, dan pada akhirnya tindakan menyakiti diri sendiri menjadi risiko terburuk yang harus saya hadapi. Dari situ saya pelan-pelan memahami bahwa persoalan kesehatan mental tidak pernah semata urusan personal. Ia selalu bertaut dengan stigma sosial, tekanan ekonomi, dan satu hal yang terlalu sering diabaikan: kebijakan negara.

Baca selengkapnya Saat Layanan Kesehatan Mental Mahal, Orang Dipaksa Tampak Normal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *