Work Inquiries
halo@halamanhalimun.com
Back

Seni Menertawakan Hidup: Membaca Ulang Umberto Eco dari Kacamata Seorang Pendongeng

Ada perbedaan kentara ketika dulu, membaca karya ini sebagai seorang penikmat buku dan kini membaca karyanya sebagai seorang peramu cerita. Dulu sekali, sebelum saya memberanikan diri untuk belajar outline berkisah atau membuat konsep kepenulisan fiksi, The Name of the Rose karyanya Eco jadi satu entitas labirin misteri yang bikin saya selalu terpukau. Ia menuliskan kisah detektif abad pertengahan yang ceritanya kompleks, teka-teki pembunuhan berantai di biara terpencil yang menantang akal kita untuk terus mengikuti titik ke titik penunjuk. 

Seiring waktu, setelah saya mulai terpengaruh untuk menulis fiksi versi saya sendiri, pembacaan ulang terhadap karya Eco berubah jadi pengalaman transformatif. Bapak semiotikus ini tidak lagi mengajari saya untuk sekadar mencintai karyanya, tapi beliau merasuk ke dalam ruang kreatif dan memugar cara saya berkisah yang gak melulu berdiri dalam satu kerangka narasi. Ia memengaruhi cara saya memandang bahasa, dan secara radikal juga memola kemampuan kreatif sekaligus kritis saya dalam mendongeng.

Bagi saya, pembacaan terhadap karya-karya Eco—terutama The Name of the Rose—bukan lagi sekadar pengkultusan, melainkan sebuah kebutuhan bagi siapa saja yang ingin memahami hakikat narasi. Setidaknya, ada dua alasan besar mengapa saya begitu mencintai Eco dan merasa bahwa warisan intelektualnya sangat krusial bagi perjalanan kreatif sekaligus kritis.

Alasan pertama yang membuat pembacaan terhadap Eco begitu penting adalah bagaimana karyanya berhasil membebaskan kita dari kungkungan whatsoever called  GENRE. Industri literatur modern sering kali menjebak dirinya dalam obsesi untuk mengotak-ngotakkan karya: ini fiksi sejarah, ini misteri populer, ini sastra serius (literary fiction), atau ini risalah teologi. Kategorisasi semacam ini, disadari atau tidak, malah akan memenjarakan imajinasi seorang kreator sebelum ia bahkan sempat untuk mengejawantahkan kemampuannya menulis.

Eco mendekonstruksi semua pembatasan itu. The Name of the Rose adalah manifestasi paling ciamik dari kebebasan dalam menulis. Di satu halaman, kita disuguhi ketegangan investigasi pembunuhan ala Sherlock Holmes lewat tokoh William dari Baskerville. Di halaman berikutnya, kita diajak menyelami debat teologis kompleks dan kritis menyoal kemiskinan Kristus, disusul dengan deskripsi arsitektural abad pertengahan yang boleh dibilang rigid, lalu ditutup dengan refleksi semiotika yang amat bernas.

Melalui Eco, saya belajar bahwa hakikatnya, semua manusia bebas untuk membaca dan menulis apa saja tanpa perlu merasa terbebani soal kategorisasi. Fiksi tidak harus tunduk pada label pasar. Sebagai penulis, saya merasa terbebaskan untuk mencampurkan unsur apa pun ke dalam cerita yang saya bangun—entah itu mitos lokal, isu sosial-politik, hingga filsafat praktis—karena struktur sebuah cerita seharusnya dibentuk oleh kebutuhan narasi yang akan kita bangun, bukan dari sekat-sekat artifisial yang dibuat oleh industri perbukuan. Penulis punya ruang amat sangat merdeka untuk mencipta.

Labirin, Deduksi, dan Keterhubungan Pikiran Manusia

Alasan kedua terletak pada metode yang digunakan Eco dalam menggerakkan plotnya, sebuah deduksi logika dalam membaca tanda (signs) dan memecahkan kode. Sebagai seorang maestro semiotika, Eco tahu betul bahwa dunia ini dipenuhi oleh tanda-tanda yang niscaya akan manusia interpretasikan nantinya. 

Dalam The Name of the Rose, William dan Adso tidak memecahkan misteri pembunuhan lewat cara berpikir kewahyuan dan ke-imanen-an, melainkan lewat logika-logika penyelidikan: bagaimana ia membaca jejak kaki di salju, menafsirkan noda tinta pada jari korban, dan menguraikan simbol-simbol perpustakaan labirin.

Ketika saya mulai menulis fiksi, saya menyadari bahwa proses mencipta plot sebenarnya adalah proses memberikan tanda, dan merancang proses bagi pembaca untuk memecahkan dan menginterpretasinya. Makna tersirat yang ditulis oleh Eco dalam struktur misterinya mewakili hakikat manusia yang paling mendasar: kita adalah makhluk yang selalu mencari dan membuat pola keterhubungan di dalam pikiran. Manusia tidak bisa hidup dalam keacakan, kita selalu mencari benang merah antara peristiwa A dan peristiwa B, bahkan ketika hubungan itu tampaknya tidak masuk akal atau tak sesuai dengan cara berpikir kebanyakan.

Sebagai penulis, pemahaman semiotik ini memberi saya alat bantu luar biasa untuk membangun kedalaman narasi. Buat saya—yang meski masih belajar mencari formula cerita, fiksi yang baik itu tidak menyuapi pembaca dengan kesimpulan, melainkan menyebarkan tanda-tanda signifikan di sepanjang cerita, membiarkan pikiran pembaca aktif bekerja membangun pola keterhubungan buat pikiran mereka sendiri. Eco mengajarkan bahwa struktur cerita adalah sebuah simulasi dari cara otak manusia bekerja menghadapi misteri.

Menertawakan Tragedi: Pada Kerangka Berpikir Saya, Eco menikahi Gogol

Puncak dari segala filosofi dalam The Name of the Rose—dan hal yang paling mengunci kecintaan saya pada Eco—terletak pada pandangannya mengenai tawa dan kebenaran. Ada kutipan luar biasa dari Eco, yang jadi benang merah saya menghadapi kebuntuan menulis atau kegetiran hidup:

“Barangkali misi mereka yang mencintai kemanusiaan adalah untuk membuat manusia tertawa atas kebenaran, untuk membuat kebenaran itu sendiri tertawa, sebab satu-satunya kebenaran sebenarnya terdapat dalam proses kita belajar membebaskan diri dari nafsu untuk memburu kebenaran.”

Daya hantam pernyataan ini memang luar biasa. Eco mengingatkan kita bahwa bahaya terbesar dalam peradaban manusia malah datang dari mereka yang merasa paling benar dan terkungkung dalam kefanatikan, hingga bersedia membakar perpustakaan dan menghancurkan sesama manusia demi melindungi dari ketersesatan (seperti tokoh Jorge dari Burgos: “apakah kamu tidak teringat pada Borges di bagian ini?”)

Bagi saya, ini mempertegas keyakinan hidup yang saya pegang: bahwa setiap kegetiran hidup, setiap tragedi, dan setiap eksistensi manusia sebenarnya mencapai titik kulminasinya ketika kita mampu menertawakannya. Menertawakan kepahitan bukanlah putus asa, tapi sebuah pembebasan. Tawa adalah senjata paling radikal untuk meruntuhkan dogma yang rigid.

Di titik inilah, saya melihat benang merah kuat antara Umberto Eco dan penulis besar lain yang saya kagumi, Nikolai Gogol. Keduanya adalah maestro yang memiliki kemampuan langka untuk melihat komedi di dalam semua ketragisan hidup manusia. Gogol, melalui karya-karyanya seperti The Overcoat atau Dead Souls, memotret kebusukan birokrasi dan penderitaan sosial dengan komedi satir nan getir.

Eco dan Gogol sama-sama memahami cara terbaik untuk menelanjangi dunia yang gila—bukan lewat khotbah dogmatis penuh amarah, tapi lewat bingkai komedi yang menyusup secara subliminal. Ketika kita bisa menertawakan sebuah ketragisan, kita sebenarnya sedang mengambil kendali atas penderitaan hidup. Kita tidak lagi didikte oleh keadaan.

Membaca kembali The Name of the Rose hari ini, dari sudut pandang seorang pendongeng, membikin saya berkesimpulan. Bahwa kebenaran dalam dunia literatur—dan dalam kehidupan itu sendiri—adalah kebebasan dalam mencari kebenaran itu sendiri.

Fiksi tidak bertugas memberikan jawaban akhir dari sebuah kebenaran. Tugas fiksi adalah merayakan proses pencarian itu. Merayakan labirinnya, merayakan keraguannya, mebangun pertanyaan-pertanyaan, menanam tanda-tanda untuk direnungkan dengan alis mengerut, dan yang terpenting, menyediakan ruang untuk menertawakan segala ketragisan hidup. Eco akan selalu jadi mercusuar yang mengingatkan saya, bahwa menulis adalah membebaskan diri. Dan setiap dongeng yang kita buat akan bergulir, tanpa pernah memiliki satu kebenaran tunggal. Silakan para penikmat cerita membuka ruang interpretasi sendiri, dan tentunya setelah itu… silakan tertawa dengan nikmatnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *