Work Inquiries
halo@halamanhalimun.com
Back

Sial Berkali-kali, Hidup Sekali Lagi: Refleksi atas To Live Karya Yu Hua

(Spoiler Alert)

Kita berusaha untuk yakin akan sebuah pedoman hidup, bahwa jika kita melakukan sebuah kesalahan, kita hanya perlu menanggung akibatnya sesaat, merenung, bertobat, lalu hidup akan kembali baik-baik saja. 

Namun, membaca To Live (Hidup) karya Yu Hua, konsep itu seperti berlaku tumpul. Yu Hua menyuguhkan sebuah kisah hidup yang jauh terasa lebih getir, tapi juga nyata. Terkadang, satu kesalahan di masa lalu harus dibayar dengan penderitaan yang tak ada habis-habisnya. Terkadang, hidup yang sial, apes, dan penuh derita itu memang benar-benar ada, tidak bisa ditebus cuma dengan Ataraxia ale Seneca.

Xu Fugui adalah satu dari sekian juta manusia ceroboh, yang bisa saja terjadi pada kita. Ia lahir sebagai anak tunggal dari keluarga tuan tanah kaya raya. Fugui muda menghabiskan masa mudanya dengan berjudi, berfoya-foya, dan habis uangnya di tempat pelacuran. Kesalahan ternyata harus ia bayar dengan kontan.

Hartanya ludes di meja judi, rumahnya disita, dan ayahnya meninggal dunia karena syok menghadapi kebodohan si putra mahkota. Di titik itu, Fugui jatuh ke dasar jurang, dipaksa bertani, menyentuh tanah kering, tahi kerbau, baju berbahan gatal-gatal dengan tangan kosong demi sesuap nasi untuk keluarganya yang masih setia mengikutinya.

Jika ini adalah cuma cerita klise soal penebusan dosa, Fugui mungkin akan diceritakan berhasil membangun kembali kekayaannya berkat kerja kerasnya. Namun, Yu Hua tidak menjual mimpi pengantar tidur. Ia sedang memotret sejarah dan nasib keluarga di Cina saat itu.

Fugui memang telah berubah menjadi manusia yang lebih baik, seorang petani miskin yang mencintai keluarganya. Namun, semesta seolah tidak peduli pada tobat dan katarsisnya. Hukuman atas kesalahannya datang bertubi-tubi, rentetan kesialannya datang bersamaan dengan badai sejarah Tiongkok. Ia terseret Perang Saudara, dipaksa menjadi tentara, lalu terimbas masa Reformasi Agraria, hingga Revolusi Kebudayaan.

Namun, sejarah besar itu hanyalah latar belakang dari tragedi personalnya yang jauh lebih mengoyak hati. Satu demi satu, orang-orang yang menjadi alasan Fugui untuk bernapas direnggut dengan cara tragis dan menyakitkan. 

Anak laki-lakinya, Qingyou, tewas karena malpraktek saat mendonorkan darah. Anak perempuannya yang bisu-tuli, Fengxia, menyusul pergi. Istrinya yang setia, Jiazhen, meninggal dunia. Lalu menantunya, dan terakhir, satu-satunya pelita hidupnya di masa tua, cucu kesayangannya, Kugen, juga direnggut maut.

Fugui kehilangan segalanya. Tidak ada mimpi penawar sial di kisah ini. Yang ada cuma rentetan keapesan yang bertubi-tubi datang, merenggut kewarasan seorang laki-laki miskin.

Kisah Fugui membawa kita pada sebuah kontemplasi tentang tawakal. Dalam filsafat Stoikisme, seringkali kita diberi gagasan indah tentang bagaimana manusia bisa mengendalikan responsnya terhadap dunia, tentang bagaimana penderitaan bisa diolah menjadi kekuatan. Namun, Fugui tidak tabah karena ia belajar filsafat ala Seneca atau Fakhrudin Faiz dan Om Manampiring. Ia tabah karena ia tidak punya pilihan lain selain terus menjalani hidup.

Ketabahan dalam To Live bukanlah sikap heroik ala Hercules, melainkan penerimaan radikal terhadap penderitaan. Fugui menerima bahwa penderitaan adalah bagian dari jatah napas yang harus ia hela setiap saat. Ketika tidak ada lagi yang tersisa, ia tidak lantas bunuh diri atau menjadi gila. Ia membeli seekor kerbau tua, memberinya nama “Fugui”, dan terus membajak sawah.

Barangkali, di sanalah letak bijaksana mengelola rasa sakit. Manusia bisa melakukan kesalahan bodoh di masa lalu, dan hidup mungkin tidak akan pernah memaafkannya. Kesialan itu eksis. Hari-hari apes yang meremukkan jiwa dan mematahkan hati itu nyata adanya. Tidak semua hal buruk terjadi karena ada “pelajaran indah” di baliknya, terkadang shit happen begitu aja, menggilas siapa pun yang kebetulan berada di jalur takdir.

Namun, di usia senjanya, saat Fugui berbincang dengan kerbau tuanya di bawah langit sore. Hidup, pada akhirnya, bukan tentang mencari bahagia yang sempurna atau menghindari derita berkepanjangan. Hidup adalah tentang hidup itu sendiri. Bertahan demi bertahan.

Fugui menyadarkan saya kalau di tengah badai sial dan kehilangan yang paling tak masuk akal sekalipun, manusia cuma bisa terus melangkah. Tanpa perlu mencaci dunia, tanpa perlu merasa menaklukkan derita, cukup dengan sadar kalau selama jantung masih berdegup, hidup… ya harus tetap dihidupi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *