Back

Tak Pernah Ada Overproud Soal Kopo: Sebuah Eponim

Sekecil-kecilnya tradisi membakar kalori yang bisa dilakukan, adalah dengan berjalan kaki. Namun tidak di Kopo, mengapa?

SpicaMC70

Lagi-lagi seperti latah membicarakan fenomena Kopo, sebuah tempat di Bandung yang akhir-akhir ini menyeruak sebagai sebuah kelindan problema tak berkesudahan. Hasrat menulis kali ini bergerak dari sebuah eponim nama kakek uyut yang diabadikan warga untuk gang di sudut Jalan Kopo, di antara kemacetan Cibolerang menuju Caringin. Ada sebuah makam luas di sana, nah, itu kampung halaman saya.

Hidup di Kopo sebagai warga pituin selalu membawa saya pada pusaran emosi penuh kontradiksi. Ada sedikit bangga karena saya sanggup berjibaku tinggal di sana sampai beranak pinak, namun ada pula rasa minder. Apakah Kopo tak memberikan kebanggaan geopolitik sama sekali pada pertumbuhan karier? Selain fakta bahwa kalau ke mana-mana sering telat akibat terjebak macetnya Kopo yang bikin kita tua di jalan. Kopo memang tak bisa diprediksi (seperti kamu).

Kakek uyut mungkin tak pernah membayangkan kalau tanah tempat namanya diabadikan akan bertransformasi menjadi sebuah distopia urban, yang kini dikenal orang sa-Bandung sebagai “Kopo si Rudet”. Persoalan macam kemacetan kronis terutama pada jam kerja akibat volume kendaraan tinggi dan tata kota yang semrawut, seolah khitah yang harus kita terima sebagai warga Bandung Selatan. Selain perkara kawasan padat penduduk yang sering kena banjir; minimnya transportasi publik yang andal; serta lingkungan berdebu yang membikin kawasan ini memiliki indeks paparan polusi cukup tinggi.

Selengkapnya https://bandungbergerak.id/article/detail/1546036457/tak-pernah-ada-overproud-soal-kopo-sebuah-eponim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *