Rasanya baru kemarin, saat hobi mengoleksi rilisan fisik Ben Folds mengenalkan saya pada Mas Imron, Imaginaire Record Store. Membeli CD Ben Folds di Tubagus Ismail sana, seperti membeli barang terlarang, memilih mana yang harus dibeli. Karena budget pas-pasan, maka semua koleksi ini pun terpaksa bertahap dikumpulkan. Meski bikin kocek kering, rasanya berbeda ketika koleksi Ben Folds lengkap memenuhi rak di dinding. Yes, saya habiskan fee bekerja dengan membeli CD Ben Folds, secara paripurna.
Lirik Ben yang sinis, satir, bahkan terasa kurang sopan menemani setiap cerita kehidupan. Kelugasan Ben dalam menulis lirik, adalah letak daya tariknya—seperti mewakili cara pandang saya terhadap dunia. Sebal, sinis, satir, dan penuh ironi. Cara Ben berceloteh lewat bahasa humor yang vulgar, bisa membuat saya senyum-senyum sendiri, sanggup mengubah mood dengan cukup tajam.
Sejak era Rockin’ the Suburbs, Ben yang dikenal menulis lagu dengan cara menguliti habis kelas menengah, relasi sosial, dan identitas maskulinitas. Musikalitasnya kuat—piano yang agresif namun melodis, struktur lagu yang kokoh, dan keberanian bicara jujur, membawa lagu-lagu Ben Folds pada ketenaran.
Ben Folds adalah seorang musisi yang tidak melihat batasan dalam kategori musik. Ia bereksperimen lewat aransemen dan lirik yang kuat. Meski sebagian orang bilang, kalau ia terlalu ceplas-ceplos, saya justru menyukai sisi itu darinya. Ben Folds adalah tipe musisi yang tidak disetir oleh trend.
Buat saya, Ben Folds menulis bagan lagu, mengarang liriknya bukan semata untuk mengimpresi. Mendengarkan album-albumnya sebagai satu kesatuan, adalah cara saya mengeja dunia dengan mata telanjang, dengan pemahaman yang tak melulu sugar coating, karena begitulah hidup, pahit, getir dan seringnya menyebalkan.
Lagu-lagu seperti “F10-D-A” menunjukkan kemampuan Ben Folds mengambil pelajaran kehidupan lalu memadukannya dengan melodi yang indah, ini yang membikin kita tertawa mendengarkan parodinya. Kemampuan menulis lagu seperti itu sulit ditemukan pada musisi lain (sekali lagi, ini cuma klaim saya sebagai penggemar).

Ada satu waktu dalam hidup saya, setiap kali lelah bekerja, mendengarkan album Way to Normal terasa begitu menghibur dan bikin senyum-senyum sendiri. Ben menghadirkan sindiran getir tentang kelelahan sosial, seolah dirinya sedang menertawakan manusia yang tak henti-hentinya menjadi fakir validasi.
Seiring waktu, album Ben Folds pun berubah seiring usia Ben. Meski sebetulnya, pada Songs for Silverman pun kecerdasan bermusik Ben mulai terdengar melunak, yang tadinya setiap baris lirik terasa ironis, kini mulai bergeser jadi lebih reflektif. Di album So There, saya mulai merasakan Ben bereksperimen dan melakukan penyesuaian arah.
Lalu pada 2023 kemarin, saya pun mendengarkan album barunya. What Matters Most adalah album pertama Ben setelah delapan tahun. Album yang hampir sepenuhnya berputar pada tema penuaan, ingatan, dan bagaimana Ben mengambil jarak dari hiruk-pikuk sosial ini, terasa begitu dekat dengan kehidupan saya saat ini. Yang menarik bukan sekadar apa yang dibicarakan Ben, melainkan bagaimana ia mengejawantahkan kegelisahan, dalam lirik-lirik sederhana yang lebih apik dari biasanya. Delapan tahun adalah waktu yang panjang dalam hidup manusia, dan banyak hal bisa saja berubah. Maka, album ini layak didengarkan secara kritis.
Secara konseptual, What Matters Most menunjukkan Ben Folds semakin sadar akan keterbatasannya. Ia tidak lagi terdengar ingin meledak-ledak dan sarkas. Beberapa lagu mencoba merangkum pengalaman hidupnya yang kompleks—hubungan gagal, perubahan ideologis seseorang, krisis usia paruh baya—dengan pendekatan yang lebih ringkas dan moralistik.
Banyak yang menganggap kalau narasi yang Ben hadirkan terlampau datar dan stereotipikal. Ben, yang dahulu lihai memainkan ironi, kini terdengar mulai tua dan lelah. Ia kehilangan jarak kritis terhadap dunianya sendiri.
Pada ruang tenang yang Ben Folds coba dendangkan, album ini adalah album yang paling saya sukai. Selain karena ia berhasil menemukan kejujurannya. Usia ternyata tidak menggerus kecerdikan dan keajaiban penulisan lagu yang selama ini Ben berikan sepanjang kariernya.
What Matters Most memotret tipikal manusia paruh baya, yang lebih bijak meski lelah—dan tidak berusaha untuk sugar coating atau trying hard untuk disukai.
Di antara seluruh trek, Back to Anonymous yang paling saya sukai. “Back To Anonymous”. Ia membandingkan masa lalu dengan kehidupannya sekarang—ketika ia bisa pergi ke mana saja tanpa dikenali atau diganggu. Inti lagu ini adalah pengakuan bahwa ia menikmati hidup yang lebih sederhana. Bahwa anonimitas adalah sebuah bentuk kebebasan.
Bagi saya—seorang penggemar berusia 45 tahun—lagu ini terasa sangat personal. Ada fase hidup ketika keinginan untuk selalu divalidasi orang perlahan memudar, karena prioritas pun berubah. Vokal Ben terdengar tenang, tidak menggebu-gebu seperti biasanya. Pilihan ini memperkuat pesan lagu, tidak semua hal personal kudu diumumkan ke publik. Cukup enjoy yourself in silence.
Lagu utama What Matters Most sendiri menguatkan tema tersebut, meski dengan pendekatan yang lebih kontekstual. Ia berbicara tentang hidup yang dibikin melambat, tentang nilai-nilai yang terasa mengerucut.
Maka secara keseluruhan, What Matters Most adalah album yang merangkum seluruh perjalanan hidup saya dengan album-album Ben Folds. Menjadi penggemar Ben Folds selama bertahun-tahun adalah privilese, dengan penulisan lagunya yang luar biasa cerdas. Liriknya selalu membuat saya merenung tentang hidup atau tertawa. Di dunia kita saat ini, mendengarkan album yang sekadar berbicara tentang hidup dan penuaan adalah sebuah liburan menyenangkan.
Saya penggemar yang mulai menua, pada Ben Folds saya memercayakan keterwakilan. What Matters Most mungkin bukan album Ben Folds yang paling kritis dan tajam, paling berani, atau paling ikonik. Namun justru karena itulah, album ini terasa jauh lebih menenangkan. Seperti yang disiratkan Ben Folds di usia senjanya, itulah yang benar-benar matters most untuk saya saat ini.